Tulisan ini aku buat semata-mata untuk berbagi pengalaman
pribadi saja. Tidak ada unsur persaingan dalam bisnis atau marketing atau
berebut konsumen.
Bulan februari tahun 2012 aku memutuskan untuk memasang
telkom speedy di kosan ku. Maklum anak muda harus eksis mengikuti perkembangan
berita baik dalam negeri,luar negeri,”luar angkasa juga kalo perlu” abaikan
kalimat dalam tanda kutip. Aku memasang atas nama pribadiku sendiri. Proses
gampang gak pake ribet, walau tetep menunggu beberapi hari dari proses
pengajuan sampai aku bisa menggunakan akses internet speedy. Beda dengan proses
pngajuan di Pangkalan Buun, Kalimantan Tengah , tempat tinggal ortu ku. Aku
inget waktu pertama ngajuin permohonan pasang speedy disana ternyata setelah
disurve petugas kok gak ada tindak lanjut lagi, akhirnya aku kembali mendatangi
plasa telkom disana (asli sebenernya malu bolak-balik datang, tar dipikirnya
hobi banget aku maen-maen ke plasa telkom -__-“ ). Setelah bertemu dengan mbak
customer service, akhirnya dijelaskan kalo jaringan speedy di perumahan tempat
tinggal ortu ku masih penuh jadi belum bisa mlakukan instalasi baru. Kok bisa
yah kayak gitu, apa karna jaringannya terbatas atau memang dibatasi, sayangnya
aku lupa menanyakan hal itu. Solusinya adalah menunggu ada yang nunggak bayar
lalu diputus jaringan speedy nya atau menunggu ada yang memutuskan berhenti
langganan speedy. Sipp !! bagus !! bener-bener gak solutif menurutku.
Ok kembali lagi pada pengalaman penggunaan speedy di kosan
ku. So far so good, aku bener-bener di buat puas dengan kualitas jaringan
speedy. Cuma aku memang agak curiga, biasanya untuk program promo memang
kualitasnya bagus, tapi apakah setelah promo habis kualitasnya menurun?. Oh
ternyata tidak, kualitasnya tetap stabil tapi tagihannya jadi gak stabil, entah
disebabkan karna apa. Kalo 6 bulan masa promosi, tagihan tiap bulan kisaran 160
ribuan, ini untuk paket yang termurah. Setelah paket habis, wow..!!tagihan
speedy ku tiap bulannya mencapai 260 ribuan, ckckckck...... dan kecewaku
berawal dari ketika pihak telkom menghubungiku melalui telepon, menawarkanku
sbuah program speedy baru yang bernama speedy indie home, dengan akses
unlimited dan kecepatan yang lebih tinggi dari pada paket yang biasa aku
gunakan. Mbak customer service mulai promosi panjang lebar soal program ini.
Yang membuat aku berantusias adalah tiap bulan cuma 240 rb aku bisa menikmati
speedy unlimited dan gratis telpon lokal maupun interlokal. Baiklah aku
tertarik menggunakannya, walau aku tidak menggunakan keuntungan telponnya karna
aku memang gak pasang pesawat telpon. Berkali-kali aku bertanya untuk
meyakinkan bahwa tidak ada tambahan biaya lain kecuali aku terlambat membayar,
dan dikatakan 240rb sudah nett. Ok, siipp!!deal aku mau pindah program ini.
Tapi tahukah sudara-sudarahhh apa yang terjadi??tagihan ku bulan ini setelah
menggunakan program indie home (bulan pertama pmakaian program ini) adalah
272rb. OMG apa-apaan ini?aku benar-benar terkezut saat ditelpon, lagi-lagi mbak
customer service yang memberitahukan jumlah tagihanku bulan ini, dan hari ini (tgl
20 januari 2014) adalah jatuh tempo pembayarannya. Kalau aku bayar besok
berarti sudah kena denda 5% dari total tagihanku bulan ini. Aku dihubungi pukul
15.30 WIB, bukankah itu waktu yang tanggung untuk menghubungi customer jika
harapannya customer bisa segera melunasi pembayaran. Iya kalau lokasiku dekat
dengan plasa telkom atau dengan loket telkom. Dari situ aku benar-benar kecewa
dan bete banget dengan pelayanan telkom speedy yang aku nilai tidak konsisten
dalam menawarkan dan menginformasikan produk pada customer. Saat aku bertanya
kenapa tagihanku kok membengkak, dibilang tagihan speedy sama telpon, aku
jelaskan aku gak pasang pesawat telpon, dan jawaban andalannya adalah “silahkan
melakukan komplain dengan mengunjungi plasa telkom”.
Ok sebelum tragedi ini (yahh...ini aku sebut sebuah tragedi
versiku), bulan desember lalu aku sempat mengunjungi plasa telkom untuk
melakukan konfirmasi penggunaan program indie home ini. Aku sempat bertanya apakah
layanan gratis telpon bisa aku nikmati langsung begitu aku terdaftar di program
indie home? Dan jawabannya adalah bisa, lalu bagaimana dengan pesawat
teleponnya, apakah aku difasilitasi atau aku menyediakan sendiri, lalu jika aku
menyediakan sendiri apakah aku perlu instalasi agar bisa menggunakan telepon?? Ternyata
jawabannya adalah aku harus menyediakan pesawat telepon sendiri dan tinngal
menyambungkan kabel yang sudah tersedia pada modem speedy ku pada pesawat
telpon. Lalu aku meyakinkan lagi dan bertanya bahwa penggunaan telepon lokal
maupun interlokal benar-benar gratis, dan jawabannya adalah iya tapi tetap ada
biaya abonemen -___-“
Well setelah kupikir-pikir sama aja aku harus beli pesawat
telepon, tiap bulan aku juga kena biaya abonemen kalau aku menggunakan pesawat
telepon. Akhirnya kuputuskan untuk tidak menggunakan fasilitas gratis telepon
dari program ini, sayang juga sebenarnya, tapi kalau dihitung-hitung bisa sama
aja tagihan yang harus aku bayar dengan tagihan sebelum aku pindah ke program
indie home. Jadi sebelum aku pindah program indie home tagihan tiap bulan ku
berkisar 161rb, dan kalau aku menggunakan program indie home aku hanya membayar
240rb, selisih 21rb memang tidak terlalu banyak, tapi kan dengan
kelebihan-kelebihan yang ditawarkan jelas banyak keuntungan di program indie
home, oleh sebab itu sudara-sudara aku memutuskan pakai program indie home.
Tapi...setelah mendapat kabar tagihanku bulan pertama
pemakaian program indie home, aku benar-benar shock karna tagihanku lebih mahal
dari yang di ipromosikan sebelumnya, bahkan lebih mahal juga dari tagihan
sebelum aku pindah program ini :’(
Sebelum mengakhiri pembicaraan dengan mbak-mbak telkom yang
menghubungiku itu, aku sempat bertanya rincian tagihan ku bulan ini, dia
menyebutkan abonemen ku sbesar 72rb. Aku tambah kaget dan kubilang aku gak pake
pesawat telepon dan gak menikmati fasilitas telepon knapa ada tagihan abonemen,
dan aku mendapatkan jawaban yang seringkali ku dengar “silahkan konfirmasi ke
plasa telkom ya ibu, kalau nanti ada kesalahan dari pihak kami, pasti akan
diganti”.
So...bisa kalian simpulkan kan dimana kecewaku, kenapa aku
merasa pelayanan masyarakat di Indonesia ini selalu seringkali payah, tingkat
kepuasan konsumennya bener-bener tidak memuaskan. Saya rasa kalau ada studi
untuk mengkaji kepuasan pelayanan masyarakat kok sepertinya tidak ada
pengaplikasiannya, atau mungkin sudah tapi progresnya tidak terlalu signifikan.