Monday, January 20, 2014




Tulisan ini aku buat semata-mata untuk berbagi pengalaman pribadi saja. Tidak ada unsur persaingan dalam bisnis atau marketing atau berebut konsumen.

Bulan februari tahun 2012 aku memutuskan untuk memasang telkom speedy di kosan ku. Maklum anak muda harus eksis mengikuti perkembangan berita baik dalam negeri,luar negeri,”luar angkasa juga kalo perlu” abaikan kalimat dalam tanda kutip. Aku memasang atas nama pribadiku sendiri. Proses gampang gak pake ribet, walau tetep menunggu beberapi hari dari proses pengajuan sampai aku bisa menggunakan akses internet speedy. Beda dengan proses pngajuan di Pangkalan Buun, Kalimantan Tengah , tempat tinggal ortu ku. Aku inget waktu pertama ngajuin permohonan pasang speedy disana ternyata setelah disurve petugas kok gak ada tindak lanjut lagi, akhirnya aku kembali mendatangi plasa telkom disana (asli sebenernya malu bolak-balik datang, tar dipikirnya hobi banget aku maen-maen ke plasa telkom -__-“ ). Setelah bertemu dengan mbak customer service, akhirnya dijelaskan kalo jaringan speedy di perumahan tempat tinggal ortu ku masih penuh jadi belum bisa mlakukan instalasi baru. Kok bisa yah kayak gitu, apa karna jaringannya terbatas atau memang dibatasi, sayangnya aku lupa menanyakan hal itu. Solusinya adalah menunggu ada yang nunggak bayar lalu diputus jaringan speedy nya atau menunggu ada yang memutuskan berhenti langganan speedy. Sipp !! bagus !! bener-bener gak solutif menurutku.
Ok kembali lagi pada pengalaman penggunaan speedy di kosan ku. So far so good, aku bener-bener di buat puas dengan kualitas jaringan speedy. Cuma aku memang agak curiga, biasanya untuk program promo memang kualitasnya bagus, tapi apakah setelah promo habis kualitasnya menurun?. Oh ternyata tidak, kualitasnya tetap stabil tapi tagihannya jadi gak stabil, entah disebabkan karna apa. Kalo 6 bulan masa promosi, tagihan tiap bulan kisaran 160 ribuan, ini untuk paket yang termurah. Setelah paket habis, wow..!!tagihan speedy ku tiap bulannya mencapai 260 ribuan, ckckckck...... dan kecewaku berawal dari ketika pihak telkom menghubungiku melalui telepon, menawarkanku sbuah program speedy baru yang bernama speedy indie home, dengan akses unlimited dan kecepatan yang lebih tinggi dari pada paket yang biasa aku gunakan. Mbak customer service mulai promosi panjang lebar soal program ini. Yang membuat aku berantusias adalah tiap bulan cuma 240 rb aku bisa menikmati speedy unlimited dan gratis telpon lokal maupun interlokal. Baiklah aku tertarik menggunakannya, walau aku tidak menggunakan keuntungan telponnya karna aku memang gak pasang pesawat telpon. Berkali-kali aku bertanya untuk meyakinkan bahwa tidak ada tambahan biaya lain kecuali aku terlambat membayar, dan dikatakan 240rb sudah nett. Ok, siipp!!deal aku mau pindah program ini.

Tapi tahukah sudara-sudarahhh apa yang terjadi??tagihan ku bulan ini setelah menggunakan program indie home (bulan pertama pmakaian program ini) adalah 272rb. OMG apa-apaan ini?aku benar-benar terkezut saat ditelpon, lagi-lagi mbak customer service yang memberitahukan jumlah tagihanku bulan ini, dan hari ini (tgl 20 januari 2014) adalah jatuh tempo pembayarannya. Kalau aku bayar besok berarti sudah kena denda 5% dari total tagihanku bulan ini. Aku dihubungi pukul 15.30 WIB, bukankah itu waktu yang tanggung untuk menghubungi customer jika harapannya customer bisa segera melunasi pembayaran. Iya kalau lokasiku dekat dengan plasa telkom atau dengan loket telkom. Dari situ aku benar-benar kecewa dan bete banget dengan pelayanan telkom speedy yang aku nilai tidak konsisten dalam menawarkan dan menginformasikan produk pada customer. Saat aku bertanya kenapa tagihanku kok membengkak, dibilang tagihan speedy sama telpon, aku jelaskan aku gak pasang pesawat telpon, dan jawaban andalannya adalah “silahkan melakukan komplain dengan mengunjungi plasa telkom”.
Ok sebelum tragedi ini (yahh...ini aku sebut sebuah tragedi versiku), bulan desember lalu aku sempat mengunjungi plasa telkom untuk melakukan konfirmasi penggunaan program indie home ini. Aku sempat bertanya apakah layanan gratis telpon bisa aku nikmati langsung begitu aku terdaftar di program indie home? Dan jawabannya adalah bisa, lalu bagaimana dengan pesawat teleponnya, apakah aku difasilitasi atau aku menyediakan sendiri, lalu jika aku menyediakan sendiri apakah aku perlu instalasi agar bisa menggunakan telepon?? Ternyata jawabannya adalah aku harus menyediakan pesawat telepon sendiri dan tinngal menyambungkan kabel yang sudah tersedia pada modem speedy ku pada pesawat telpon. Lalu aku meyakinkan lagi dan bertanya bahwa penggunaan telepon lokal maupun interlokal benar-benar gratis, dan jawabannya adalah iya tapi tetap ada biaya abonemen -___-“
Well setelah kupikir-pikir sama aja aku harus beli pesawat telepon, tiap bulan aku juga kena biaya abonemen kalau aku menggunakan pesawat telepon. Akhirnya kuputuskan untuk tidak menggunakan fasilitas gratis telepon dari program ini, sayang juga sebenarnya, tapi kalau dihitung-hitung bisa sama aja tagihan yang harus aku bayar dengan tagihan sebelum aku pindah ke program indie home. Jadi sebelum aku pindah program indie home tagihan tiap bulan ku berkisar 161rb, dan kalau aku menggunakan program indie home aku hanya membayar 240rb, selisih 21rb memang tidak terlalu banyak, tapi kan dengan kelebihan-kelebihan yang ditawarkan jelas banyak keuntungan di program indie home, oleh sebab itu sudara-sudara aku memutuskan pakai program indie home.
Tapi...setelah mendapat kabar tagihanku bulan pertama pemakaian program indie home, aku benar-benar shock karna tagihanku lebih mahal dari yang di ipromosikan sebelumnya, bahkan lebih mahal juga dari tagihan sebelum aku pindah program ini :’(
Sebelum mengakhiri pembicaraan dengan mbak-mbak telkom yang menghubungiku itu, aku sempat bertanya rincian tagihan ku bulan ini, dia menyebutkan abonemen ku sbesar 72rb. Aku tambah kaget dan kubilang aku gak pake pesawat telepon dan gak menikmati fasilitas telepon knapa ada tagihan abonemen, dan aku mendapatkan jawaban yang seringkali ku dengar “silahkan konfirmasi ke plasa telkom ya ibu, kalau nanti ada kesalahan dari pihak kami, pasti akan diganti”.
So...bisa kalian simpulkan kan dimana kecewaku, kenapa aku merasa pelayanan masyarakat di Indonesia ini selalu seringkali payah, tingkat kepuasan konsumennya bener-bener tidak memuaskan. Saya rasa kalau ada studi untuk mengkaji kepuasan pelayanan masyarakat kok sepertinya tidak ada pengaplikasiannya, atau mungkin sudah tapi progresnya tidak terlalu signifikan.

0 comments:

Post a Comment

 

Copyright 2010 dare 2 DREAM.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.