Saturday, July 26, 2014

Lebaran kali ini berbeda dengan lebaran tahun kemarin. Setiap tahun tidak pernah terasa sama lebaran-lebaran yang kulalui. Tapi dari situ aku bisa merasakan perbedaannya, terima kasih Ya Allah atas setiap perbedaan yang telah engkau beri di setiap lebaran-lebaran yang kulalui, begitu juga lebaran kali ini (Insha Allah). Tidak setiap lebaran aku selalu bisa berkumpul dengan kedua orang tua dan adik-adikku, juga tidak setiap lebaran aku bisa berkumpul dengan semua keluarga besar. Jika kalian bertanya apakah itu semua membuatku sedih? Jawabannya adalah “YA”, tapi yang paling membuatku sedih adalah ketika tidak bisa bersama kedua orang tuaku dan adik-adikku. Memang benar keluarga adalah tempat yang selalu membuat kita rindu untuk kembali pulang. Keluarga adalah tempat dimana terkadang semua beban yang kamu rasa akan hilang sejenak atau bahkan berkurang. Keluarga adalah tempat dimana kamu selalu bisa menemukan kehangatan. Tempat yang akan selalu menerimamu apa adanya dengan segala kesalahan yang pernah kamu buat, dengan segala kekurangan yang kamu miliki. 

source by: hilirmudik.com

Bisa dibilang aku selalu menjalani moment lebaran dengan situasi yang bergantian, jadi misalnya tahun ini aku bisa berkumpul dengan keluargaku, kemungkinan besar lebaran tahun berikutnya aku akan melaluinya sendiri. Selalu ada hal yang Allah perbuat untuk maksud tertentu saat aku tidak bisa melalui moment bahagia ini bersama keluargaku. Aku tahu rasanya lebaran seorang diri tanpa keluarga dan sanak saudara, aku tau rasanya bagaimana lebaran tanpa kedua orang tua dan adik-adikku, aku juga tau rasanya lebaran menghabiskan sepanjang waktu dikosan yang berasa sepi tanpa penghuni kecuali aku seorang diri. Tapi semua aku syukuri, banyak orang yang gak bisa merasakan apa itu mudik karna mungkin keluarga besarnya berada dalam satu kota atau malah tetanggaan. Tapi aku pernah merasakan moment mudik, saat harus berburu tiket murah, saat harus berdesak-desakan di kereta,bis,mabuk saat naek kapal, deg-degan saat akan take off, saat travel semakin dekat membawa kita menuju rumah, semua yang pernah aku rasakan, yang berhubungan dengan mudik, selalu membuatku bahagia. Thanks to My Allah. Lalu bagaimana selama perjalanan aku sudah membayangkan berkumpul, makan satu meja,bertukar cerita,bercanda,hhhh....semua lelah selama perjalanan pasti tergantikan saat melihat senyum dan tawa kedua orang tua dan adik-adikku menyambut kedatanganku. That’s why.....aku slalu merasa bersemangat saat akan mudik walau mungkin aku harus naek bis berjam-jam, atau harus rela mabuk laut, atau harus rela di jemput travel pagi buta pukul 2 pagi gara-gara jadwal pesawat jam 7 pagi. Dan lebaran kali ini aku kembali harus melaluinya tanpa kedua orang tua dan adik-adikku. Sedih rasanya  saat tidak bisa berkumpul dengan mereka di moment dimana kebanyakan semua orang melalui bersama keluarganya.

Keluargaku masih menggunakan tradisi jawanya saat hari raya tiba. Aku rasa sebagian besar dari kalian yang berasal dari jawa juga mengalaminya, saat dimana setelah sholat ied, pulang ke rumah, kemudian bapak ibu sudah berada di singgasananya, siap untuk menerima sungkeman dari anak-anaknya. Kalau di keluargaku, tradisi sungkeman ini lengkap dengan menggunakan bahasa jawa halus, atau krama inggil kalau tidak salah namanya. 
Dulu waktu aku kecil sehari sebelum lebaran aku pasti harus menghafalkan kalimat-kalimat yang biasa diucapkan saat sungkeman. Tapi sekarang tidak lagi, secara sudah berapa tahun aku melalui tradisi ini. Bahasa sungkeman yang aku gunakan gak ribet kok menurutku, kalimatnya seperti ini : “ Ngaturaken sugeng riyadin, bilih wonten kalepatan kulo nyuwun pangapunten. Mboten langkung kulo nyuwun tambah pangestunipun” yang artinya kurang lebih seperti ini “ Mengucapkan selamat hari raya, kalau ada kesalahan saya mohon maaf. Tidak lupa saya minta tambah doa restunya”. Kalimat ini biasanya digunakan saat aku sungkeman pada mereka yang dituakan, seperti kedua ortu ku, kemudian kakek nenek ku, dan kakak-kakak dari orang tuaku. Jadi adik-adikku pun juga melakukan sungkeman padaku *heheheh* tapi sayangnya adikku tidak menggunakan bahasa krama inggil seperti yang aku tulis di atas. Mungkin karena kita dibesarkan pada zaman dan lingkungan budaya yang berbeda. Jadi adik-adikku hanya menggunakan kalimat dalam bahasa Indonesia saja. Yang penting tradisi sungkemannya gak boleh hilang.

Terlepas dari segala tradisi lebaran yang ada di Indonesia, Hari Raya Idul Fitri tetap harus kita maknai dengan sungguh-sungguh. Sungguh-sungguh memulai semuanya dalam keadaan yang fitri, hati yang bersih. Tetap menjalankan amalan-amalan baik yang sudah kita kerjakan di bulan suci Ramadhan. Saling maaf memaafkan segala kesalahan baik lisan maupun perbuatan. Dan akhirnya aku juga mau ngucapin SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1435 H, Minal Aidzin Wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin ya pemirsa. Selamat mudik buat yang lagi mudik, dan buat yang gak bisa mudik kayak aku jangan sedih. Lebaran gak cuma bisa di rayakan dengan mudik kan?jadi jangan galau. Allah selalu tau apa yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan. Mudik dan tidaknya kita di hari lebaran pasti dengan sebuah alasan dan maksud. Jadi tetep be positif dan sambutlah hari kemenanganmu!!!



See you soon :*

0 comments:

Post a Comment

 

Copyright 2010 dare 2 DREAM.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.