Yahhh...benar adanya...maka sebelum kau mendoakan negara
lain maka doakan negaramu sendiri,,
Bagaimana kita bisa “berhenti” ,
ketika televisi 24 jam non
stop menyuguhkan informasi-informasi tanpa filterisasi.
Bagaimana bisa “berhenti”
ketika gadget berada digenggaman,
dan bisa mengakses semua tanpa batasan.
Bagaimana bisa “berhenti” ketika tak lagi tau
siapa yang tersakiti, siapa yang ternodai...
Bagaimana bisa “berhenti” ketika tak lagi tau
siapa yang tersakiti, siapa yang ternodai...
Tanpa
kita sadari, sesungguhnya kita kelelahan dengan semua ini.
Tak banyak yang menyadarinya,
dan ktika menyadarinya pun tak banyak
yang mau berhenti “mencari” apa yang
seharusnya tak perlu dicari.
Dan pada akhirnya pun,
perkataan-perkataan keluar
dari mulut-mulut yang haus akan segelas air putih.
Masih bertanya mulut-mulut siapa??
Mulut-mulut
mereka yang masih “mencari” apa yang seharusnya tak dicari.
Kini aku kembali
merasakan bagai bijak tak bertuan...
Mengais pagi yang tak kunjung mati...
Menangis sekali untuk kita yang terdzalimi...
Tak ada yang bisa ditutupi ketika cahaya menembus pandang
cela di balik kemeja tipis yang dikenakan, katanya itu kemeja mahal....
buatan
negeri sebrang,
hadiah dari negeri adi daya.
Suara itu bergemuruh di balik bajuku,
baju yang kugunakan
sudah sangat tebal
tapi tak bisa menyembunyikan suarah gemuruh itu.
Apa kalian
mendengarnya....?
Semua pasti bisa mendengarnya,
kecuali kalian yang “TULI” dan "MATI HATI".
Disuatu malam, di kota Malang,
untuk Negeri yang Malang tapi selalu aku “banggakan”
untuk Negeri yang Malang tapi selalu aku “banggakan”
"Akan datang kpd manusia tahun-tahun yg penuh tipu
daya, dimana pendusta dipercaya dan orang jujur didustakan, pengkhianat diberi
amanah dan orang yg amanah dikhianati" (HR Al Hakim)

0 comments:
Post a Comment