Lebaran kali ini berbeda dengan lebaran tahun kemarin.
Setiap tahun tidak pernah terasa sama lebaran-lebaran yang kulalui. Tapi dari
situ aku bisa merasakan perbedaannya, terima kasih Ya Allah atas setiap
perbedaan yang telah engkau beri di setiap lebaran-lebaran yang kulalui, begitu
juga lebaran kali ini (Insha Allah). Tidak setiap lebaran aku selalu bisa
berkumpul dengan kedua orang tua dan adik-adikku, juga tidak setiap lebaran aku
bisa berkumpul dengan semua keluarga besar. Jika kalian bertanya apakah itu
semua membuatku sedih? Jawabannya adalah “YA”, tapi yang paling membuatku sedih
adalah ketika tidak bisa bersama kedua orang tuaku dan adik-adikku. Memang
benar keluarga adalah tempat yang selalu membuat kita rindu untuk kembali pulang. Keluarga adalah tempat
dimana terkadang semua beban yang kamu rasa akan hilang sejenak atau bahkan
berkurang. Keluarga adalah tempat dimana kamu selalu bisa menemukan kehangatan.
Tempat yang akan selalu menerimamu apa adanya dengan segala kesalahan yang
pernah kamu buat, dengan segala kekurangan yang kamu miliki.
![]() | |
| source by: hilirmudik.com |
Bisa dibilang aku selalu menjalani moment lebaran dengan
situasi yang bergantian, jadi misalnya tahun ini aku bisa berkumpul dengan
keluargaku, kemungkinan besar lebaran tahun berikutnya aku akan melaluinya
sendiri. Selalu ada hal yang Allah perbuat untuk maksud tertentu saat aku tidak
bisa melalui moment bahagia ini bersama keluargaku. Aku tahu rasanya lebaran
seorang diri tanpa keluarga dan sanak saudara, aku tau rasanya bagaimana
lebaran tanpa kedua orang tua dan adik-adikku, aku juga tau rasanya lebaran
menghabiskan sepanjang waktu dikosan yang berasa sepi tanpa penghuni kecuali
aku seorang diri. Tapi semua aku syukuri, banyak orang yang gak bisa merasakan
apa itu mudik karna mungkin keluarga besarnya berada dalam satu kota atau malah
tetanggaan. Tapi aku pernah merasakan moment mudik, saat harus berburu tiket
murah, saat harus berdesak-desakan di kereta,bis,mabuk saat naek kapal,
deg-degan saat akan take off, saat travel semakin dekat membawa kita menuju
rumah, semua yang pernah aku rasakan, yang berhubungan dengan mudik, selalu
membuatku bahagia. Thanks to My Allah. Lalu bagaimana selama perjalanan aku sudah membayangkan berkumpul, makan satu
meja,bertukar cerita,bercanda,hhhh....semua lelah selama perjalanan pasti
tergantikan saat melihat senyum dan tawa kedua orang tua dan adik-adikku menyambut
kedatanganku. That’s why.....aku slalu merasa bersemangat saat akan mudik walau
mungkin aku harus naek bis berjam-jam, atau harus rela mabuk laut, atau harus
rela di jemput travel pagi buta pukul 2 pagi gara-gara jadwal pesawat jam 7
pagi. Dan lebaran kali ini aku kembali harus melaluinya tanpa kedua orang tua
dan adik-adikku. Sedih rasanya saat
tidak bisa berkumpul dengan mereka di moment dimana kebanyakan semua orang
melalui bersama keluarganya.
Keluargaku masih menggunakan tradisi jawanya saat hari raya
tiba. Aku rasa sebagian besar dari kalian yang berasal dari jawa juga
mengalaminya, saat dimana setelah sholat ied, pulang ke rumah, kemudian bapak
ibu sudah berada di singgasananya, siap untuk menerima sungkeman dari
anak-anaknya. Kalau di keluargaku, tradisi sungkeman ini lengkap dengan
menggunakan bahasa jawa halus, atau krama inggil kalau tidak salah namanya.
Dulu waktu aku kecil sehari sebelum lebaran aku pasti harus menghafalkan
kalimat-kalimat yang biasa diucapkan saat sungkeman. Tapi sekarang tidak lagi,
secara sudah berapa tahun aku melalui tradisi ini. Bahasa sungkeman yang aku
gunakan gak ribet kok menurutku, kalimatnya seperti ini : “ Ngaturaken sugeng riyadin, bilih wonten
kalepatan kulo nyuwun pangapunten. Mboten langkung kulo nyuwun tambah
pangestunipun” yang artinya kurang lebih seperti ini “ Mengucapkan selamat
hari raya, kalau ada kesalahan saya mohon maaf. Tidak lupa saya minta tambah
doa restunya”. Kalimat ini biasanya digunakan saat aku sungkeman pada mereka
yang dituakan, seperti kedua ortu ku, kemudian kakek nenek ku, dan kakak-kakak
dari orang tuaku. Jadi adik-adikku pun juga melakukan sungkeman padaku
*heheheh* tapi sayangnya adikku tidak menggunakan bahasa krama inggil seperti
yang aku tulis di atas. Mungkin karena kita dibesarkan pada zaman dan
lingkungan budaya yang berbeda. Jadi adik-adikku hanya menggunakan kalimat
dalam bahasa Indonesia saja. Yang penting tradisi sungkemannya gak boleh hilang.
Terlepas dari segala tradisi lebaran yang ada di Indonesia,
Hari Raya Idul Fitri tetap harus kita maknai dengan sungguh-sungguh.
Sungguh-sungguh memulai semuanya dalam keadaan yang fitri, hati yang bersih.
Tetap menjalankan amalan-amalan baik yang sudah kita kerjakan di bulan suci
Ramadhan. Saling maaf memaafkan segala kesalahan baik lisan maupun perbuatan.
Dan akhirnya aku juga mau ngucapin SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1435 H, Minal
Aidzin Wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin ya pemirsa. Selamat mudik buat
yang lagi mudik, dan buat yang gak bisa mudik kayak aku jangan sedih. Lebaran
gak cuma bisa di rayakan dengan mudik kan?jadi jangan galau. Allah selalu tau
apa yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan. Mudik dan tidaknya kita di
hari lebaran pasti dengan sebuah alasan dan maksud. Jadi tetep be positif dan
sambutlah hari kemenanganmu!!!
See you soon :*








