Friday, October 21, 2011



Tepatnya sekitar  19 tahun yang lalu aku bersama keluargaku hijrah ke kalimantan tengah. Bersama bapak, mama dan seorang adikku. Saat itu kami memang masih ber empat. Tidak ada rasa kehilangan ataupun penyesalan saat itu yang kurasakan saat tiba di sebuah tempat yang terpencil. Di sebuah desa yang jauh dari hiruk pikuk bingar perkotaan, listrik pun tak ada. Tapi entah kenapa saat itu aku malah menikmati semuanya. Ya mungkin karna aku masih terlalu polos dan belum mengerti tentang semua perbedaan kehidupan yang aku lalui dari kota metropolitan Surabaya hijrah ke lokasi terpencil seperti itu. Aku sekeluarga hijrah kesana awalnya juga tak tahu karna alasan apa, yang jelas semua begitu cepat dan mendadak. Dua hari sebelum berangkat, Bapak baru mengabarkan kita sekeluarga akan pindah. Aku juga tak tahu bagaimana bisa mengurus semua surat-surat kepindahan secepat itu. Dan sampai sekarang pun, aku masih belum tau apa yang membuat Bapak tiba-tiba memutuskan untuk hijrah ke kalimantan tengah. Tapi bukan soal alasan kepindahan yang ingin aku ceritakan kali ini. Tapi tentang apa yang aku lihat, rasakan dan alami di kalimantan saat itu berbeda dengan kondisi sekarang.

Ada perbedaan yang kurasakan kalimantan yang sekarang dengan kalimantan yang dulu. Tahun 2010 lalu aku berkesempatan mengunjungi tempat dimana saat itu aku pernah tinggal.  Dulu aku tinggal di desa Sukamandang G1, kenapa ada G1, apa juga ada Sukamandang G2? Ya, memang benar ada Sukamandang G1, G2, B1, B2. Entah apa maksudnya ada huruf dan abjad di belakang nama Sukamandang. Jarak Sukamandang G1 dengan Sukamandang G2 tidak berdekatan, kurang lebih bisa ditempuh dengan jarak 30 menit dengan kondisi jalan saat ini. Tapi dulu saat awal aku tinggal di Sukamandang, jarak yang ditempuh untuk ke G2 bisa sampai 1 jam jika jalan tidak habis hujan. Kalau habis hujan jelas dibutuhkan waktu lebih karna akses jalan yang licin, lumpur tanah liat yang sering membuat truk-truk yang kami kendarai terjebak di dalamnya. Dulu moda transportasi yang sering kita gunakan adalah truk, sepeda motor merupakan barang mewah yang jarang dimiliki saat itu dilokasi tersebut. Kondisi jalan poros saat itu adalah jalan dengan tekstur tanah padat yang memiliki corak warna warni, sampai sekarang pun aku masih suka menjumpai tanah liat semacam itu di pinggiran parit perkebunan kelapa sawit yang biasa aku lalui.  Jalan poros selebar kurang lebih 10 meter itu biasa dilalui truk dan tronton yang mengangkut kayu-kayu gelondongan yang sangat besar, kadang juga untuk mengangkut rumah-rumah kayu. Dulu setiap ada tronton yang memuat gelondongan kayu-kayu berukuran raksasa, aku dan beberapa teman sebaya yang ada disekitar rumahku pasti akan berlari menuju jalan poros untuk menyaksikan tronton-tronton besar dengan muatan super besar. Kebetulan rumahku berada dekat dengan jalan poros, hanya sekitar 300 meter, dan dibatasi dengan hutan kecil selebar 100 meter. Jadi dari rumahku pun aku bisa mendengar kendaraan besar yang melintas. Dulu sepanjang kanan kiri jalan poros aku bisa melihat belantara hutan alam kalimantan yang khas dengan nuansa rimbanya setiap kali aku melakukan perjalanan ke desa tetangga bersama keluargaku. Tak jarang aku melihat orang utang maupun monyet yang bergelantungan dari satu pohon ke pohon lain. Terkadang juga truk yang kami kendarai harus berhenti karena ada rombongan babi hutan menyebrang. Musang, tupai, ayam hutan, burung-burung, semua satwa yang masih bisa kulihat sekarang tak tampak lagi. Hutan lebat yang dulu sangat kukagumi karna selalu bisa menyejukan mata dan hatiku kini berubah dengan hamparan sawit atau bahkan hamparan ladang gersang bekas pembakaran. Kesejukan yang dulu masih kurasakan disaat melakukan perjalanan di siang hari kini tak kurasakan lagi. Kini AC mobil pun tak dapat menandingi suhu panas di luar ruangan. Aku baru tau kalau Sukamandang berada di sebuah kawasan perkebunan yang dimiliki perusahaan-perusahaan besar di Indonesia. 

Dulu aku masih terlalu kecil, belum tahu apa itu ilegal logging, apa itu pembalakan liar, apa itu eksploitasi alam, pembakaran hutan dan sebaginya, aku belum tahu itu. Masih terekam jelas memory-memory masa kecil yang sempat kuhabiskan walau hanya 6 bulan saja di Sukamandang. Aku memang hanya 6 bulan saja disana sampai akhirnya orangtua ku memulangkanku ke Jawa, ke Surabaya, ke tempat mbahku tinggal. Itulah dimana aku harus terpisah jarak oleh kedua orang tuaku selama belasan tahun. Sejak saat itu aku berada dalam asuhan mbahku. Dan selama 6 bulan di Sukamandang aku sudah mendapatkan pengalaman-pengalaman yang tak pernah kudapat sebelumnya. Dan saat ini ketika aku kembali mengingat semua itu, aku benar-benar bersyukur pada Allah SWT atas perjalanan hidup yang telah kulalui.
(Bersambung)

0 comments:

Post a Comment

 

Copyright 2010 dare 2 DREAM.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.