Tepatnya sekitar 19 tahun
yang lalu aku bersama keluargaku hijrah ke kalimantan tengah. Bersama bapak,
mama dan seorang adikku. Saat itu kami memang masih ber empat. Tidak ada rasa
kehilangan ataupun penyesalan saat itu yang kurasakan saat tiba di sebuah tempat
yang terpencil. Di sebuah desa yang jauh dari hiruk pikuk bingar perkotaan,
listrik pun tak ada. Tapi entah kenapa saat itu aku malah menikmati semuanya.
Ya mungkin karna aku masih terlalu polos dan belum mengerti tentang semua
perbedaan kehidupan yang aku lalui dari kota metropolitan Surabaya hijrah ke
lokasi terpencil seperti itu. Aku sekeluarga hijrah kesana awalnya juga tak
tahu karna alasan apa, yang jelas semua begitu cepat dan mendadak. Dua hari
sebelum berangkat, Bapak baru mengabarkan kita sekeluarga akan pindah. Aku juga
tak tahu bagaimana bisa mengurus semua surat-surat kepindahan secepat itu. Dan
sampai sekarang pun, aku masih belum tau apa yang membuat Bapak tiba-tiba
memutuskan untuk hijrah ke kalimantan tengah. Tapi bukan soal alasan kepindahan
yang ingin aku ceritakan kali ini. Tapi tentang apa yang aku lihat, rasakan dan
alami di kalimantan saat itu berbeda dengan kondisi sekarang.
Ada perbedaan yang kurasakan kalimantan yang sekarang dengan
kalimantan yang dulu. Tahun 2010
lalu aku berkesempatan mengunjungi tempat dimana saat itu aku pernah tinggal. Dulu aku tinggal di desa Sukamandang G1,
kenapa ada G1, apa juga ada Sukamandang G2? Ya, memang benar ada Sukamandang G1, G2, B1, B2. Entah apa maksudnya ada huruf dan abjad di belakang nama
Sukamandang. Jarak Sukamandang G1 dengan Sukamandang G2 tidak berdekatan,
kurang lebih bisa ditempuh dengan jarak 30 menit dengan kondisi jalan saat ini.
Tapi dulu saat awal aku tinggal di Sukamandang, jarak yang ditempuh untuk ke G2
bisa sampai 1 jam jika jalan tidak habis hujan. Kalau habis hujan jelas
dibutuhkan waktu lebih karna akses jalan yang licin, lumpur tanah liat yang
sering membuat truk-truk yang kami kendarai terjebak di dalamnya. Dulu moda
transportasi yang sering kita gunakan adalah truk, sepeda motor merupakan
barang mewah yang jarang dimiliki saat itu dilokasi tersebut. Kondisi jalan
poros saat itu adalah jalan dengan tekstur tanah padat yang memiliki corak
warna warni, sampai sekarang pun aku masih suka menjumpai tanah liat semacam
itu di pinggiran parit perkebunan kelapa sawit yang biasa aku lalui. Jalan poros selebar kurang lebih 10 meter itu
biasa dilalui truk dan tronton yang mengangkut kayu-kayu gelondongan yang
sangat besar, kadang juga untuk mengangkut rumah-rumah kayu. Dulu setiap ada
tronton yang memuat gelondongan kayu-kayu berukuran raksasa, aku dan beberapa
teman sebaya yang ada disekitar rumahku pasti akan berlari menuju jalan poros
untuk menyaksikan tronton-tronton besar dengan muatan super besar. Kebetulan
rumahku berada dekat dengan jalan poros, hanya sekitar 300 meter, dan dibatasi
dengan hutan kecil selebar 100 meter. Jadi dari rumahku pun aku bisa mendengar
kendaraan besar yang melintas. Dulu sepanjang kanan kiri jalan poros aku bisa
melihat belantara hutan alam kalimantan yang khas dengan nuansa rimbanya setiap
kali aku melakukan perjalanan ke desa tetangga bersama keluargaku. Tak jarang
aku melihat orang utang maupun monyet yang bergelantungan dari satu pohon ke
pohon lain. Terkadang juga truk yang kami kendarai harus berhenti karena ada
rombongan babi hutan menyebrang. Musang, tupai, ayam hutan, burung-burung,
semua satwa yang masih bisa kulihat sekarang tak tampak lagi. Hutan lebat yang
dulu sangat kukagumi karna selalu bisa menyejukan mata dan hatiku kini berubah
dengan hamparan sawit atau bahkan hamparan ladang gersang bekas pembakaran.
Kesejukan yang dulu masih kurasakan disaat melakukan perjalanan di siang hari
kini tak kurasakan lagi. Kini AC mobil pun tak dapat menandingi suhu panas di
luar ruangan. Aku baru tau kalau Sukamandang berada di sebuah kawasan
perkebunan yang dimiliki perusahaan-perusahaan besar di Indonesia.
Dulu aku
masih terlalu kecil, belum tahu apa itu ilegal logging, apa itu pembalakan
liar, apa itu eksploitasi alam, pembakaran hutan dan sebaginya, aku belum tahu
itu. Masih terekam jelas memory-memory masa kecil yang sempat kuhabiskan walau
hanya 6 bulan saja di Sukamandang. Aku memang hanya 6 bulan saja disana sampai
akhirnya orangtua ku memulangkanku ke Jawa, ke Surabaya, ke tempat mbahku
tinggal. Itulah dimana aku harus terpisah jarak oleh kedua orang tuaku selama
belasan tahun. Sejak saat itu aku berada dalam asuhan mbahku. Dan selama 6
bulan di Sukamandang aku sudah mendapatkan pengalaman-pengalaman yang tak
pernah kudapat sebelumnya. Dan saat ini ketika aku kembali mengingat semua itu,
aku benar-benar bersyukur pada Allah SWT atas perjalanan hidup yang telah
kulalui.
(Bersambung)

0 comments:
Post a Comment